The Chorus

film asal perancis yang berjudul asli Les Choristes ini dirilis pada tahun 2004 dan disutradarai oleh Christophe Barratier. film ini  bersetting sekitar tahun 1940-an di sebuah asrama anak-anak (yang semuanya adalah laki-laki) bernama Fond de L’ Etang (arti harafiah, Dasar Danau). siswa-siswa yang belajar di Fond de L’ Etang ini kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu dan anak-anak yatim piatu. kepala sekolahnya yang bernama Mr. Rachin adalah sosok kepala sekolah yang keras dan sangat disiplin.

cerita film ini diawali dengan adegan seorang konduktor dan musisi terkenal, Pierre Morhange yang sebelum pementasannya harus menerima kabar bahwa ibunya telah meninggal dunia, namun secara profesional ia tetap melanjutkan pementasannya (well, show must go on!) dan setelah itu ia langsung bergegas untuk kembali ke kampung halamannya untuk menghadiri pemakaman sang Ibu. di sana ia kembali bertemu dengan teman sekolah masa kecilnya, Pepinot. dari sinilah cerita kemudian berlanjut dengan flashback ke masa-masa mereka masih bersekolah di Fond de L’ Etang….

seorang lelaki paruh baya berjalan mendekati pintu gerbang sebuah sekolah asrama yang cukup sepi dan agak tidak terurus. di atas gerbangnya tertulis Fond de L’ Etang. si lelaki itu bernama Clement Mathieu, ia adalah manta musisi yang melamar pekerjaan sebagai pengawas asrama di sini. ternyata ia dikejutkan dengan adanya seorang anak kecil yang sedang berdiri menunggu seseorang datang. dari kejauhan terdengar seorang laki-laki berteriak memanggil anak tersebut yang ternyata bernama Pepinot.

setelah masuk kedalam asrama Mathieu dikagetkan dengan sistem pengajaran yang sangat keras di asrama yang dipimpin oleh kepala sekolah bernama Mr. Rachin. Mr. Rachin selalu mengatakan “ada aksi pasti ada reaksi”, jadi siapaun yangberbuat nakal dan tidak sesuai peraturan asrama maka sia-siap untuk mendapatkan reaksi yang berupa hukuman (biasanya ditaruh di dalam penjara). namun rasanya Mathieu berpikir bahwa sistem yang selama ini dijalankan oleh Mr. Rachin tidak dapat membendung kenakalan murid-muridnya, malah kenakalan mereka makin menjadi-jadi. ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan diasrama ini.

karena Mathieu tidak suka dengan hukuman yang dilakukan oleh kepala sekolah, maka ia mempunyai hukuman bagi siswanya dengan caranya sendiri.  Mathieu lebih memilih menghukum seorang siswa untuk mengurus pesuruh sekolah yang sedang sakit ketimbang menghukum siswanya dengan menyuruh mereka untuk membersihkan lantai sekolah. hal itu membuat Mr. Rachin geram. cara Mathieu ini ternyata berbuah manis, siswa-siswanya merasa nyaman dengan yang dilakukan Mathieu. hal ini membuat Mathieu bertekat untuk memberikan sebuah karyanya (lagu) kepada mereka. akhirnya ia berinisiatif untuk membuat sebuah Choir atau paduan suara yangberisikan siswa-siswa Fond de L’ Etang. awalnya Mathieu secara diam-diam (tanpa sepengetahuan guru-guru dan kepala sekolah) mengajarkan anak-anak itu bernyanyi. Mathieu pun menemukan talenta luar biasa dalam hal bernyanyi dari siswa-siswa ini. inilah awal yang membuat jalan hidup semua orang yang terlibat di dalamnya berubah.

salah satu anak yang special didalam paduan suara itu adalah Pierre Morhange yang sering disebut sebagai si ‘wajah malaikat’ oleh guru-guru lain di asrama karena wajahnya yang ‘innocent’ dan baik namun dibalik wajahnya yang terlihat baik itu ia adalah anak yang nakal, keras kepala. Pierre mempunyai suara emas yang membuat paduan suara itu menjadi berbeda. dengan suara emasnya yang itu, Pierre membuat Mathieu terkagum-kagum. ia mendapat kehormatan untuk bernyanyi secara solo. hal ini secara tidak langsung merubah sikap dan sifat Pierre menjadi bersahabat dan membantu Mathieu didalam paduan suara. namun, perjuangan paduan suara ini berakhir disaat sekolah asrama tempat mereka belajar dan tinggal dibakar oleh Mondain, salah satu mantan murid di asrama Fond de L’ Etang. Mondain dendam karena pernah dituduh mencuri uang sekolah dan dimasukan ke penjara. sialnya pada saat kebakaran terjadi, Mathieu yang sedang bertugas menjaga asrama. akhirnya Mathieu dipecat dan sekolah ditutup.

akhirnya, anak-anak tersebut dikembalikan kepada orangtua masing-masing. sementara Pepinot yang yatim-piatu dibawa dan diurus oleh Mathieu. Pierre akhirnya mendapat beasiswa dan masuk sekolah musik di Lyon, hingga ia menjadi musisi berbakat dan terkenal sampai sekarang.

film ini sangat inspiratif sekali, banyak adegan-adegan yang membekas dihati saya. misalnya saja adegan dimana Pierre mencoba menyanyi dikelas tanpa sepengetahuan orang lain. adegan dimana mereka berlatih suara, rasanya damai dan nyaman sekali mendengar dan melihat mereka bernyanyi membuat bulu kuduk saya berdiri (didukung juga dengan musik dan soundtrack yang bagus). adegan yang membuat saya menangis terharu adalah dimana saat Mathieu harus meninggalkan sekolah karena dipecat, murid-murid tersebut tidak secara langsung mengucapkan salam perpisahan tetapi mereka satu persatu menerbangkan pesawat dari kertas dan memberikan ucapan perpisahan melalui kertas tersebut.  Film ini banyak mendapatkan penghargaan untuk film berbahasa asing terbaik di beberapa ajang penghargaan (Salah satunya Academy Award tahun 2005). bertambah lagi film favorit saya….

-SS-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: